24 Januari 2026 - 06:53
Kelahiran Imam Husain as dan Hari Pasdar; Keterkaitan Imamah, Wilayah dan Penjagaan Revolusi Islam

Kelahiran yang penuh berkah Imam Husain as dan penetapan Iran sebagai “Hari Pasdar (Penjaga Revolusi)” mengingatkan pada keterkaitan mendalam antara mazhab Asyura dengan penjagaan Revolusi Islam; keterkaitan yang kini terwujud dalam sosok Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan peran penentunya dalam menjaga keamanan, kemerdekaan, dan wibawa Iran Islam.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – Kelahiran yang penuh berkah Imam Husain as dan penetapan Iran sebagai “Hari Pasdar (Penjaga Revolusi)” mengingatkan pada keterkaitan mendalam antara mazhab Asyura dengan penjagaan Revolusi Islam; keterkaitan yang kini terwujud dalam sosok Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan peran penentunya dalam menjaga keamanan, kemerdekaan, dan wibawa Iran Islam.

Kelahiran Imam Husain as bukan sekadar peringatan atas kelahiran Imam ketiga Syiah, tetapi pengingat lahirnya sebuah mazhab Ilahi yang esensinya adalah menjaga agama, kebenaran, dan wilayah (kepemimpinan). Mazhab yang bermula dari Asyura dan pada era kini berlanjut dalam bentuk Revolusi Islam dan institusi-institusi yang lahir darinya.

Dengan kebangkitannya melawan penyimpangan dari jalur imamah, Imam Husain (as) menunjukkan bahwa menjaga Islam menuntut keteguhan, ketajaman pandangan, dan kesiapan menanggung risiko. Asyura bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan tolok ukur abadi untuk membedakan kebenaran dari kebatilan dan teladan bagi semua generasi.

Penetapan hari kelahiran Imam Husain as sebagai “Hari Pasdar” berakar dari hakikat ini. Dalam logika Islam, penjagaan bukan semata tugas organisasi, tetapi komitmen keyakinan; komitmen untuk menjaga agama Allah, mengikuti wali yang haq, dan menghadapi barisan kezaliman.

Di era kini, makna mendalam ini terwujud dalam Korps Garda Revolusi Islam. Lembaga yang didirikan atas perintah Imam Khomeini  dengan tujuan menjaga Revolusi Islam, nilai-nilai agama, dan capaian bangsa Iran, serta sejak awal mengikat identitasnya dengan budaya Asyura.

Dalam tahun-tahun perang pertahanan (Perang Iran-Irak), IRGC berperan sebagai ujung tombak pertahanan negara, memainkan peran tak tergantikan dalam menjaga keutuhan wilayah Iran, dan dengan ribuan syuhada menunjukkan bahwa menjaga revolusi adalah kelanjutan dari jalan Husaini.

Setelah perang berakhir, misi IRGC tidak berhenti, tetapi berkembang sesuai ancaman baru. Kini IRGC, selain menjalankan tugas pertahanan, juga berperan dalam menghadapi perang lunak, ancaman keamanan, konspirasi regional, dan perang kognitif musuh.

Contoh nyata kekuatan ini adalah peran menentukan IRGC dalam perang 12 hari dan serangan rudal presisi yang bersifat penangkal terhadap rezim Zionis; operasi yang bertumpu pada kemampuan dalam negeri, iman para pejuang, dan manajemen cerdas, yang meruntuhkan kewibawaan semu musuh.

Operasi ini tidak hanya menunjukkan kemampuan militer IRGC, tetapi juga memperlihatkan bahwa poros perlawanan, dengan Republik Islam Iran sebagai porosnya, mampu mengubah perhitungan keamanan kawasan demi kepentingan bangsa-bangsa tertindas dan menghadapkan rezim Zionis pada kekalahan militer, intelijen, dan psikologis.

Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama, sinergi, dan soliditas para pasdar di berbagai sektor pertahanan, intelijen, dan operasional; soliditas yang berakar pada iman, ketaatan kepada wilayah, dan keyakinan pada janji Ilahi.

Para Pasdar Revolusi Islam hari ini bukan hanya penjaga perbatasan geografis, tetapi penjaga keamanan nasional, kehormatan Islam, dan kemerdekaan politik Iran. Kehadiran ini membuat musuh, meski dengan berbagai ancaman dan tekanan, tidak berani melakukan agresi langsung terhadap Iran.

Titik temu semua keberhasilan ini adalah ketaatan penuh kepada Wilayatul Faqih. Sebagaimana Imam Husain as menjadikan ketaatan kepada Imam zamannya sebagai poros perjuangan, IRGC pun dengan mengikuti Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam menata langkahnya dalam kerangka kepentingan Islam dan revolusi.

Kedekatan mendalam IRGC dengan rakyat adalah faktor lain dari kekuatan lembaga revolusioner ini. Rakyat yang selalu berdiri bersama para pasdar, dan para pasdar pun memandang diri mereka lahir dari rakyat dan mengabdi kepada mereka.

Musuh-musuh Revolusi Islam sangat menyadari bahwa IRGC adalah pilar utama keamanan dan stabilitas negara. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir mereka memusatkan upaya untuk merusak citra lembaga ini, mendistorsi misinya, dan menciptakan jarak antara IRGC dan rakyat.

Kelahiran Imam Husain as mengingatkan bahwa penjagaan bukan tanggung jawab sementara, melainkan janji sejarah; janji yang dimulai dari Karbala dan kini berlanjut dalam sosok para Pasdar Revolusi Islam.

Hari Pasdar adalah momentum memperbarui baiat kepada cita-cita Imam Husain as, Imam Khomeini, dan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam; cita-cita yang dibangun di atas keteguhan, perlawanan, dan pembelaan terhadap kebenaran.

Tanpa ragu, selama budaya Husaini, ketaatan kepada wilayah, dan semangat penjagaan tetap hidup di negeri ini, Revolusi Islam akan terus melangkah dengan kokoh, dan musuh kembali akan merasakan kekalahan di berbagai medan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha